//
you're reading...
kabar tuban

Idap Tumor, Nenek 70 Tahun Nafkahi Anak Gila

Liku perjalanan seseorang memang sebuah misteri. Setidaknya itulah yang tergambar dari kehidupan Mbah Warsilah (70), janda miskin asal Desa Waleran, Kecamatan Grabakan, Tuban.

Dengan keterbatasan kondisi ekonomi, dia harus menjalani hari dengan penyakit tumor di mata. Tak hanya itu, ia harus menghidupi anaknya seorang diri yang mengalami gangguan jiwa.

Selama ini, nenek tersebut hidup sendirian di rumahnya yang sangat sederhana. Hari-harinya dilalui dengan rasa sakit akibat tumor ganas yang menyerang mata kanannya. “Penglihatan saya sudah kabur mas,” kata Mbah Warsilah pelan.

Ada raut wajah pasrah yang dipancarkan nenek ini. Sesekali ia menyeka air matanya yang meleleh di sebelah kiri. Ia menangis karena merasakan perih yang amat sangat pada mata sebelah kananya. Banyak waktunya yang hanya dihabiskan dengan duduk-duduk di rumah.

Mbah Warsilah lantas bercerita. Awalnya, ia merawat Kurahullah (26), yang terkena gangguan jiwa dengan suaminya. Tapi setelah suaminya meninggal lantaran sakit beberapa tahun lalu, tinggal dia sendirian yang merawatnya. Waktu itu tumor di matanya sudah mulai terasa. “Tumor saya sudah lima tahun. Awalnya seperti kemasukan batu mas rasanya. Namun, lama-kelamaan bertambah besar,” tegasnya.

Lalu bagaimana ia menghidupi anaknya yang sakit jiwa itu?. Mbah Warsilah tak langsung menjawab dengan kata, melainkan dijawab dengan tangisan. Ia mengaku untuk makan rela menyusuri jalanan desa sampai belasan kilometer untuk menjual singkong yang dipunyainya ke warga sekitar. “Hanya itu yang saya bisa. Selain itu, tidak ada lagi yang kami harapkan,” sambungnya dengan terisak.

Ia rela melakoni hidupnya yang terasa berat itu, demi anaknya yang sudah sakit jiwa sejak kecil. Sehingga tak ada pilihan selain bertahan hidup dengan apa adanya. “Kalau jalan kaki saya rasanya nyeri bertambah pusing di kepala. Itu demi anak saya, agar bisa makan setiap hari,” katanya.

Mbah Warsilah menuturkan dengan pelan, yang ditakutkan bukanlah kematian dirinya sendiri yang sudah renta. Melainkan nasib anaknya yang sebatang kara dengan kondisi sakit jiwa. Karena, tak mungkin dia mampu hidup sendiri mencari makan. Sebab, selama ini yang merawat sehari-hari adalah dirinya sendirian. “Bagaimana kalau saya meninggal. Siapa yang merawat anak saya,” katanya pelan nyaris tak terdengar.

Satu hal yang masih tetap dipegang Mbah Warsilah, adalah keinginan untuk bertahan hidup agar bisa terus menghidupi anaknya, dengan cara apapun. ”Kami menerima hidup ini dengan lapang dada,” tambahnya.

Memang, para tetangga Mbah Warsilah seringkali datang dan memberikan bantuan . Tapi itu tak bisa diharapkan datang setiap hari. Karena perkampungan yang didiami Mbah Warsilah lebih banyak dihuni masyarakat yang kurang mampu. “Kadang memang tetangga membantu. Ya sekedarnya,” kata salah seorang tetangga.

(Okezone.com/Nanang Fahrudin/Koran SI/ful)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: