//
you're reading...
kabar tuban, Khas Tuban, Tayub

Nasib Perajin Alat Musik Karawitan di Tuban

Lebih Banyak Hanya Terima Pesanan Perbaikan Alat

Kemajuan zaman membuat kesenian tradisional semakin ditinggalkan. Para perajin alat tradisional pun harus menerima kenyataan tak bisa lagi mengais banyak rupiah dari keahliannya.

ZAKKI TAMAMI, Tuban (Radar Bojonegoro)

Suara pukulan terdengar keras saat wartawan koran ini melintas di jalan yang masuk Dusun Ngemplak, Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Tuban kemarin (20/3). Suara itu berasal dari rumah yang menghadap ke selatan. Seorang pria sibuk memukul besi tong.

Dia adalah Sarmidi, 55, salah satu perajin alat musik karawitan di Tuban yang masih tetap bertahan. Di salah satu bagian rumahnya itu, berserakatan alat musik karawitan. Ada alat yang sudah jadi, ada pula yang masih setengah jadi.

Sarmidi tak hanya membuat gong. Dia juga bisa membuat geder, bonang, slentem, demung, saron, peking, gambang, dan kendang. Bahan-bahan alat itu berasal dari besi, kayu, dan perunggu.

”Saya sudah 20 tahun atau sekitar tahun 1990 menjadi tukang membuat alat kesenian tradisional,” ujar dia menggunakan logat Jawa.

Keahlian membuat alat karawitan itu dimiliki berdasarkan ”warisan” orang tuanya. Awalnya, pria yang hanya lulusan sekolah dasar (SD) ini ikut membantu orang tuanya membuat alat karawitan di Kelurahan Ronggolawe, kecamatan setempat.

Di Tuban saat itu, ada tiga perajin alat kesenian tradisional yang cukup terkenal. Ketiga perajin tersebut tak pernah sepi order. ”Setahun dua set alat karawitan,” kenangnya

”Itu paling cepat dibuat selama dua bulan dengan tiga tenaga pekerja,” imbuhnya.

Pemesanan ketika itu berasal dari pecinta seni yang ada di Bojonegoro, Lamongan, Gresik, dan Tuban sendiri.

Seiring berkembangnya zaman, karawitan mulai jarang digunakan. Masyarakat lebih senang menggunakan hiburan modern ketika menggelar hajatan. Akibatnya, pemesanan untuk pembuatan alat kesenian tradisional itu pun menurun drastis. Meski demikian, Sarmidi mencoba tetap bertahan.

”Ya gimana lagi, sekarang sepi, kadang setahun saja nggak ada pesanan,” kata Sarmidi pasrah.

Menurut dia, banyak warga yang datang hanya untuk memperbaiki alat yang dimilikinya. ”Atau pesen, namun tidak satu set,” tutur dia. (*)

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: