//
you're reading...
kabar tuban, Wisata Tuban

Temukan Batu Bata Peninggalan Majapahit

Bangunan untuk pemujaan atau semacam tempat semedi banyak berdiri pada zaman Majapahit. Bangunan itu di antaranya diduga berdiri di lokasi yang kini dijadikan kompleks pemandian Nganget. Yakni, di petak 33A, RPH Kejuron, BKPH Bangilan, KPH Jatirogo.

Petilasan tersebut Selasa (25/8) lalu dikaji tim dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Mojokerto. Tim yang beranggotakan tiga orang tersebut turun setelah mendapat laporan tertulis Misbahul Munir, 31, pengasuh Ponpes Darul Hikmah di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban.

Saat turun ke lokasi, tim ini hanya menemukan banyak batu bata besar tertanam di permukaan tanah. Selebihnya, berserakan di sekitar sumber air yang mengandung belerang. Selain batu bata, ditemukan juga pecahan tembikar yang diduga hiasan dinding bangunan bersejarah.

Salah satu batu bata yang diduga menjadi bangunan sejarah tersebut dibawa pulang Munir dan ditunjukkan kepada wartawan koran ini kemarin (27/8). Batu bata tersebut memiliki panjang 28 sentimeter (cm); lebar 18,5 cm; dan tebal 8 cm. Kuswanto, ketua tim BP3 Trowulan yang dikonfirmasi wartawan koran ini melalui selulernya mengatakan, dari ukuran dan bentuknya, batu bata tersebut diduga kuat dibuat pada zaman Majapahit.

Atau, pada era sesudahnya, yakni masa wali. Batu bata yang sama namun ukurannya lebih kecil, kata dia, ditemukan di Masjid Demak, Kudus, Jateng. Dalam penelitian tersebut, Kuswanto belum bisa menyimpulkan pasti bentuk bangunan bersejarah yang dibangun dari batu bata tersebut. Sebab, di sekitar situs sejarah itu tidak ditemukan struktur (bangunan) dalam keadaan utuh. Hampir semua batu bata yang ditemukan juga dalam kondisi fragmen (tidak utuh).

Posisi batu bata tersebut, menurut arkeolog, ini diperkirakan sudah tidak pada posisi semula. Bahkan, sebagian dipakai untuk membangun keliling pemandian Nganget.

Dari posisi batu bata yang ditemukan di dekat sumber air Nganget yang berada di kaki pegunungan Nolodito atau Nolotidu (berdasar peta Belanda yang dibuat pada 1926), sangat mungkin bangunan yang didirikan dari batu bata tersebut tempat pemujaan atau tempat semedi. Karena tidak ada yang tahu kalau itu situs sejarah, batu bata tersebut dibiarkan berserakan.

Selama ini, Nganget lebih dikenal sebagai wana wisata daripada tempat bersejarahnya. Tempat ini menempati lahan hutan dengan luas total 0,33 hektare. (radar bojonegoro)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: