//
you're reading...
kabar tuban

mengintip Semangat Belajar Warga

Mengintip Semangat Warga Belajar untuk Bangkit dari Ketertinggalan
Suturmi tak Lagi Bergantung pada Suami

Program keaksaraan fungsional (KF) mampu mengubah kehidupan sejumlah warga belajarnya. Mereka yang sebelumnya buta huruf, sekarang tak hanya mampu membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Juga meningkatkan taraf hidupnya.

DWI SETIYAWAN, Tuban

SIANG itu, Suturmi, 51, santai di bangunan samping rumahnya di Dusun Sawir, Desa Saringembat, Kecamatan Singgahan. Dia duduk di dekat beras dagangannya yang ditaruh pada dua panci. Hanya itu beras dagangannya yang masih tersisa.

Selain berdagang beras, Suturmi juga punya usaha membuat kue. Antara lain, lemper, tahu isi, pisang goreng, gendos, lemet, dan ote-ote. Namun, siang itu kue jualannya sudah habis dititipkan ke sejumlah warung dan penjual sayur keliling.

Untuk memasak kue dagangannya, ibu dua anak ini harus bangun pukul 02.00. Usai membuat kue, dia menuju ke pasar untuk menitipkan dagangannya tersebut. Di pasar, dia juga kulakan beras untuk dijual di rumah.

Suturmi adalah salah satu potret kesuksesan warga belajar setelah mengikuti KF. Sebelumnya, dia hanyalah ibu rumah tangga biasa. Saat masih buta huruf, dia pasrah dengan keadaan. Aktivitasnya hanya di dalam rumah. Mengurus anak dan memasak. Kepul asap dapur keluarga yang hidup pas-pasan ini hanya bergantung pada Maskur, 57, suami Suturmi, yang bekerja sebagai tukang kayu.

Setelah mengikuti KF di Pusat Kegiatan Belajar Mandiri (PKBM) Al Mubaarokah Desa Kedungjambe, Kecamatan Singgahan selama enam bulan sejak Juli hingga Desember 2008, kehidupan Suturmi dan keluarganya berubah drastis. Suturmi yang dulunya hanya bisa pasrah dengan nasib, kini pikirannya berkembang untuk meningkatkan taraf ekonominya.

Berkembangnya kemampuan wanita desa ini tidak hanya karena kemampuannya yang bisa calistung. Juga berpikir untuk menghasilkan kreativitas yang produktif. Karena kemampuannya hanya memasak makanan, maka Suturmi pun memutuskan untuk berwirausaha membuat kue.

Setelah perputaran uang hasil jualan kuenya meningkat, dia pun menambah usahanya dengan berjualan beras. Suturmi mengaku tumbuhnya kesadaran dirinya untuk mengembangkan diri tersebut didapat dari motivasi Asmini, penyelenggara KF. ”Dia itu yang membimbing saya,” kata dia sambil menunjuk Asmini yang mengantar sekaligus mendampingi wartawan koran ini selama wawancara.

Sebenarnya, setelah lulus dari KF, Suturmi hanya mendapat modal usaha yang relatif sedikit dari PKBM Al Mubaarokah, penyelenggara KF. Jumlahnya hanya Rp 150 ribu. Ketika menerima modal tersebut, dia memiliki satu tandan pisang sobo yang diambil dari kebun belakang rumahnya. ”Setadan pisan ini juga jadi modal awal saya. Akhirnya, usaha bisa seperti sekarang ini,” kenang dia.

Wirausaha yang dirintis Suturmi muncul pada waktu yang tepat. Saat suaminya tak lagi mendapat garapan karena usianya sudah udzur, Suturmi menggantikan peran suaminya sebagai tulang punggung keluarga. Bahkan, setelah penghasilan istrinya bisa diandalkan, Maskur memilih bekerja di Sulawesi. Kemampuan Suturmi menjadi tulang punggung keluarga tak hanya sebatas kebutuhan primer (pokok).

Enam bulan berjualan kue dan beras membuat wanita yang tak pernah bersekolah ini mampu membeli sejumlah kebutuhan tambahan. Dua bulan pertama, memang hanya sebuah televisi bekas 14 inc merek Sanyo yang mampu dia beli. Sebulan kemudian, Suturmi menukar-tambah satu-satunya sepeda mini butut miliknya dengan sepeda yang lebih bagus.

Sepeda lawas yang usianya seumuran anak ragilnya, 12 tahun tersebut, laku Rp 90 ribu. Sebagai gantinya, dia membeli sepeda bekas yang masih bagus merek Sinciang dengan harga Rp 210 ribu. Tak hanya itu. Sebulan terakhir, Suturmi juga mampu membuat bangunan tambahan berukuran 3,5 x 10 meter (m) di selatan rumahnya. Bangunan berdinding sesek dan beratap asbes tersebut dipakai untuk membuat kue dan menempatkan beras dagangannya.

Sekarang ini, Suturmi memang bisa berbangga dengan dagangannya tersebut. Omset kue jualannya setiap hari rata-rata Rp 160 ribu. Kalau ada pesanan dari orang hajatan di kampungya, omset tersebut bisa membengkak hingga Rp 600 ribu. Sementara untuk beras, omset penjualan berasnya sekitar 30-40 tompo beras. Per tompo bila ditakar dengan kaleng, maka sama dengan kaleng berisi sekitar 2 liter.

Berkembanganya wirausaha kue diakui Suturmi salah satunya karena kerja sama dengan tiga pedagang sayur keliling yang juga teman seangkatannya dalam KF di PKBM Al Mubaarokah. Tiga temannya tersebut, Warsini, Siti Aminah, dan Musilowati. Seluruhnya warga desa setempat.

Bedanya, sebelum ikut KF, ketiganya sudah menjadi penjual sayur keliling. Setelah mengikuti KF, ketiganya termotivasi untuk menambah komoditas jualannya. Kalau sebelumnya hanya sayur, ikan, dan bumbu dapur, sekarang mereka juga menjajakan kue buatan Suturmi. Dari memasarkan kue buatan teman seangkatan di KF tersebut, ketiga penjual sayung keliling ini mendapat keuntungan Rp 100 per kue.

Lain halnya dengan kisah Lani, yang juga warga belajar KF. Sebelum ikut program pemberantasan buta huruf, warga Dusun Krajan, Desa Kedungjambe ini hanyalah makelar unggas dan dagangan di pasar desa setempat. Setelah ikut KF dan melek huruf, usahanya bertambah. Di rumah, sekarang ini dia beternak itik. Untuk sementara, unggas yang dipeliharanya 50 ekor.

Sementara Sarah, 45, warga belajar lainnya, juga berubah setelah ikut KF. Sebelum ikut KF, warga Desa Saringembat, Kecamatan Singgahan ini berkutat dengan rutinitas berjualan sayur di desanya. Dia bangun pagi, bersepeda 5 km ke Desa Binangun, juga di kecamatan setempat dan balik ke desanya untuk menjajakan dagangannya.

Rutinitas ini tidak membuat usahanya yang dirintis bertahun-tahun menjadi maju. Sering dagangannya tidak laku karena sampai di desa sudah siang. Perjalanan pulang dari pasar ke kampungnya memerlukan waktu sekitar 35 menit. Selain itu, dengan bersepeda, muatan dagangannya juga terbatas.

Setelah lulus KF, dia termotivasi untuk memajukan usahanya. Uang tabungannya dibelikan sebuah motor. Dengan motor inilah, perjalanan berangkat dan pulang ke pasar menjadi lebih singkat. Selain itu, motor tersebut mampu memuat barang dagangannya lebih banyak.

Asmini, penyelenggara PKBM Al Mubaarokah mengatakan, warga yang buta aksara umumnya kurang perdaya dan cenderung minder untuk berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal. Kondisi inilah yang mengakibatkan mereka sulit menerima gagasan dan ide-ide baru. Dikatakan dia, pembelajaran di KF tidak hanya menjadikan mereka bisa calistung. Juga memobilisasi mereka untuk melakukan beragam tindakan atau perbuatan sesuai dengan potensi dirinya. (*)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: