//
you're reading...
kabar tuban

PG/TK Bertahan Eksis dengan Keterbatasan Sarana

Aktivitasnya Numpang Rumah Warga, Anak PG Tak Dipungut Biaya

Di Tuban, masih banyak play group (PG) dan taman kanak-kanak (TK) yang menjalankan kegiatan belajar mengajra (KBM) dengan segala keterbatasan. Semangat dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini (PAUD), menjadikan dua lembaga pendidikan pra sekolah itu bertahan eksis dengan dana swadaya.

RADAR BOJONEGORO, DWI SETIAWAN, Tuban

PG Tunas Bangsa (TB) adalah salah satu potret kelompok bermain di Tuban yang lengkap dengan keterbatasan. PG ini berada di daerah terpencil di gunung kapur Nggecek, Desa Jegulo, Kecamatan Soko.

Ngerinya perlajanan menuju lokasi kelompok bermain di kawasan pegunungan kapur yang berjarak 35 kilometer (km) dari selatan kota Tuban tersebut, dirasakan wartawan Koran ini (Radar Bojonegoro) saat berangkat bersama Siti Qudsiyah dan Endang Handayati, kepala dan guru PG TB.

Untuk menuju ke PG itu, sarana transportasi cepat dari tepi jalan Desa Jegulo yang ada hanya motor. Dusun Nggecek lokasinya sekitar 300-400 meter dari permukaan laut (berdasarkan peta topografi Belanda 1943). Lebar jalan menuju Nggecek tak lebih hanya 2,5 meter (m). Jalan beraspal hanya beberapa ratus meter. Selebihnya jalan makadam.

Separo perjalanan, suasana pegunungan mulai terasa. Selain terhampar hutan berjurang, jalanan juga berkelok-kelok dan menanjak. Endang mengatakan, kondisi jalan menuju dusun tersebut sekarang ini jauh lebih baik. Perjalanan pun cukup ditempuh dengan waktu sekitar 15 menit. Empat bulan lalu, di akhir perjalanan menuju Dusun Nggecek, harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 1 km karena jalanan berbatu tajam.

Tempat PG TB beraktivitas persis berada di ujung tanjakan memasuki dusun tersebut. Lokasinya menempati sepertiga ruang tamu Kasuri, warga dusun setempat, yang berukuran 8 x 6 m. Dari luar, sama sekali tidak terkesan kalau rumah berdinding gedhek (anyaman bambu) tersebut digunakan aktivitas PG. Tidak ada papan nama PG. Begitu juga sarana bermain.

Suasana yang menunjukkan bahwa rumah tersebut dipakai aktivitas nonformal terlihat dari berkerumunnya anak-anak dan pengantarnya. Meski berseragam, hanya empat anak yang mengenakan sepatu, selebihnya bersandal. Memasuki ruang tamu rumah tersebut, kondisi terlihat lebih memperihatinkan. Tidak ada skat dinding antara ruang belajar dengan ruang tamu pemilik rumah. Karena itu, semua aktivitas PG ini diketahui penghuni rumah. Sebaliknya, hampir semua aktivitas di ruang tamu rumah tersebut juga bisa dilihat jelas dari PG.

Rumah Kasuri hanya berlantai tanah. Untuk mensiasati agar bisa digunakan tempat belajar, sepertiga ruang tamu yang ditempati aktivitas PG, digelari perlak (plastik tebal) merah. Di lantai plastik yang lembab inilah semua aktivitas berlangsung. Termasuk untuk bidang menggambar dan menulis.

Menyatunya aktivitas PG ini dengan pemilik rumah juga pada penggunaan kamar kecil. Jangan bayangkan kamar kecil tersebut berfasilitas seperti toilet pada umunya. Bentuknya hanya berupa kamar berdinding sesek yang berpintu kain. Di jamban ini, hanya tersedia jambangan (kuali dari tanah) dengan sedikit air. Untuk buang air besar (BAB), anak-anak harus pulang.

Sarana penunjang belajar di PG ini juga sangat minim. Di salah satu dinding, tergantung papan tulis berukuran 100 x 80 cm. Di dekat papan tulis tersebut tertempel kertas cetakan bertuliskan huruf hijaiyah, angka-angka, dan gambar binatang. Sisi dinding lainnya terpajang kertas HVS yang digambari bunga dan binatang. Karena dindingnya gedhek, gambar-gambar tersebut tak tertempel sempurna dan sering bergoyang diembus angin dari lubang gedhek. Sementara di langit-langit, tergantung hiasan kertas warna-warni dan hasil karya anak. Sarana bermain anak sama sekali tidak dimiliki kelompok bermain ini.

Meski kondisinya memprihatinkan, PG yang beru beroperasi pada 12 Desember lalu tersebur sudah memiliki 25 anak. Seluruhnya adalah warga dusun setempat. Data PG setempat menyebutkan, dari 27 anak berusia di bawah lima tahun di dusun setempat, 25 anak mengikuti PG TB.

Banyak anak yang belajar menunjukkan tingginya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini. Sebenarnya, mayoritas warga di dusun ini yang berjumlah sekitar 300 KK, tergolong miskin. Sebagian besar mereka petani ladang yang pertaniannya menggantungkan irigasi dari air hujan. Namun, kesadaran pentingnya pendidikan anak usia dini ini cukup tinggi. Kondisi inilah yang menjadi pertimbangan PKK Desa Jegulo mendirikan PG di dusun terpencil itu.

“Saya ingin anak saya pintar, makanya saya ikutkan play group di sini,” kata Kiswati, 25 ibu Amelia Zenatfa Ayunda Putri, 3,5 yang diamini ibu anak didik lainnya.

Menurut mereka, meski baru enam bulan mengikuti PG, anak-anak sudah bisa berhitung sederhana, hafal abjad, doa-doa dan surat pendek. Sebagian anak mereka juga mulai mandiri untuk melaksanakan hal-hal seperti makan, buang air kecil, dan bertanggung jawab dengan mainan.

Tingginya semangat masyarakat dusun setempat terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini kurang didukung kemampuan orang tua membiayai pendidikan anaknya. Karena itulah, Kades Jegulo, Moh. Saefulloh Ponco Eko, meminta PKK desa tidak memungut sepeser pun uang pendidikan. “Mereka mau mengikutkan anaknya ke PG saja sudah untung,” kata dia.

Dari mana biaya operasional PG? Saefulloh menyatakan, semua ditanggung swadaya masyarakat desa setempat. Karena kemampuan desa membiayai operasional PG TB juga terbatas, dua guru yang mengajar mengaku tidak diberi honor. “Di sini kita mengabdi.” Kata Siti Qudsiyah.

Selain harus mengeluarkan uang bensin motornya untuk menempuh tempatnya mengajar yang berjarak sekitar 4,5 km, dia mengaku beberapa kali merogoh uang sakunya untuk membeli kertas warna yang dipakai membuat alat permainan edukatif (APE).

Menurut Siti, karena mengajar pada PG yang finansialnya terbatas, dirinya harus dituntut kreatif menciptakan APE. Dia akhirnya berprestasi menciptakan APE dari limbah.

Prestasi itulah yang menasbihkannya sebagai wakil Himpaudi Kecamatan Soko dalam lomba cipta APE dalam peringatan HariAnak Nasional (HAN) di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Tuban pada hari ini (4/6). “Mungkin ini hikmahnya.” Tutur dia.

Plt Kepala Disdikpora Tuban Sutrisno didampingi Kepala Bidang Pordikmas Jaranitra Katrup mengatakan, sekarang ini sudah berdiri 209 PG yang seluruhnya didanai dari swadaya masyarakat. Menurut dia, Pemkab Tuban akan berupaya mempermudah perizinan pendirian PG, melatih para gurunya secara berkala, mengupayakan honor bagi gurunya, dan memfasilitasi dana kelembagaan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jatim. “Sehingga obsesi kami muncul satu PAUD di setiap desa bisa tercapai.” Kata Sutrisno.

Pada tahun ini, APBN hanya menggelontorkan dana satuan PAUD kepada 10 pos PAUD. Besarnya dana yang diterima masing-masing lembaga hanya Rp 10 juta. Pada tahun yang sama, Pemprov Jatim menggelontokan dana rintisan bagi tiga PAUD dengan masing-masing lembaga mendapat dana Rp 25 juta.

Sementara Pemkab Tuban pada APBD 2008 menggelontorkan honor Rp 75 ribu bagi 2 guru dan seorang penyelenggara PG. Dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) Pemkab Tuban 2009, Disdiskpora mengusulkan anggaran masing-masing PG Rp 3 juta.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: