//
you're reading...
kabar tuban

Cerita PKL yang Tidak Lagi Jualan di Terminal Wisata Kebonsari

Pendapatan Anjlok, Nitip Gerobak Dimarahi Petugas

Nasib wong cilik seperti pedagang kaki lima (PKL) tak kunjung membaik. Salah satu kebijakan pemkab yang ditakuti oleh PKL adalah tidak mendapat izin berjualan di lokasi strategis. Seperti yang dialami oleh PKL di Terminal Wisata Kebonsari, Tuban. Sejak tidak diperbolehkan lagi berjualan di dalam terminal, pendapatan mereka anjlok hingga 50 persen lebih.

Pagi sekitar pukul 08.00, cuaca cerah. Langit biru tertutup sebagian awan putih tipis. Sejumlah lima gerobak PKL diparkir di trotoar Jalan AKBP Suroko, tepatnya di timur Terminal Wisata Kebonsari, Tuban. Pemilik gerobak sibuk mempersiapkan dagangannya. Rokok berbagai merek disusun rapi di deret papan gerobak. Minuman berbagai merek juga ditata di teras gerobak.

Di trotoar jalan raya, kini sebagian tempat mangkal PKL. Sebelumnya mereka biasa mangkal di dalam terminal wisata. Karena tidak dapat izin dari Dinas Industri, Perdagangan dan Koperasi (Indagkop) mereka terpaksa pindah berdagang di luar terminal. ”Ya disini mas jualannya,” kata Titik, 35, salah satu PKL yang jualan rokok kepada wartawan koran ini kemarin.

Perempuan yang mengaku sudah enam tahun berjualan bercerita, awalnya dia berjualan di dalam terminal wisata Kebonsari Tuban. Sejak mulai berjualan enam tahun lalu belum ada polemik yang sedemikian rupa. ”Waktu jualan di dalam penghasilan mencapai Rp 300 ribu perhari,” akunya. Namun, setelah dia tidak berjualan di dalam terminal penghasilan mulai merosot tajam. ”Kalau sekarang hanya dapat Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu,” ujarnya. Pekerjaan itu ia lakukan mulai pukul 08.00- 23.00. ”Kadang ya pindah-pindah tempat kadang di utara terminal. Tapi pindahnya masih di sekitar lokasi terminal ini,” imbuhnya.

Perempuan itu merasa aturan tidak diperbolehkan berjualan di dalam terminal merugikan PKL. Sebab, hanya untuk berjualan saja tidak mendapatkan izin. Padahal, kata dia, sudah bertahun-tahun jualan di tempat tersebut.

Tak hanya itu, dia juga mengeluhkan dengan sikap petugas yang ada di Terminal Wisata Kebonsari. Sebab hanya hanya bermaksud menitipkan gerobaknya saja tidak boleh. ”Nitip gerobak di dalam saja diusir, di-omengi (dimarahi). Kalau seperti itu tutup saja ” keluhnya.

Hal sama juga dialami oleh Yani, pedagang nasi. Dia mengaku sudah 10 tahun berjualan di terminal wisata tersebut. Namun, sekarang tidak mendapatkan tempat di dalam terminal. ”Sebenarnya hanya ingin bisa jualan di dalam terminal,” katanya. Lantaran tidak boleh berjualan, akhirnya perempuan asal Kebonsari, Tuban itu harus berjualan nasi di trotar dekat terminal setempat. Baik Titik maupun Yani berharap, agar pemerintah tidak menginjak-nginjak orang yang kurang mampu. ”Yo mbok ojo idek-idek wong cilik (Ya tidak usah menginjak-injak orang kecil),” papar Titik.

Budi salah satu PKL lainnya mengatakan, jika sampai satu bulan mendatang Pemkab Tuban belum memberikan kepastian lokasi. Maka, para PKL bakal mendatangi gedung dewan lagi untuk menuntut haknya.

(radarbojonegoro)

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: