//
you're reading...
Batik Gedog, Khas Tuban

Batik Gedog

Batik Gedog

Batik Gedog

Batik Gedog dari Tuban, merupakan salah satu khasanah batik Nusantara. Kendati tidak setenar batik Solo, Jogya atau Pekalongan — batik gedog dari Jawa Timur ini tetap sarat akan makna. Baik yang bersifat filosofis maupun kekuatan ekonomis. Ini terlihat pada motif-motif yang unik.

Batik Gedog sudah melanglang ke mancanegara. Sentra industri di Desa Margorejo, Kecamatan Kerek, sekitar 35 kilometer ke arah barat pusat kota, menawarkan satu bentuk wisata tersendiri. Sambil berburu batik gedog, yang tahun 2002 produksinya 14.800 lembar, pengunjung dapat melihat proses pembuatan tenun khas Tuban yang didominasi motif burung dan bunga yang masih sangat tradisional: mulai pembuatan benang dari kapas, penenunan, hingga pembatikan.

Dalam buku Batik Fabled Cloth of Java karangan Inger McCabe Elliot dikatakan sebenarnya batik Tuban mirip dengan batik Cirebon pada pertengahan abad ke-19. Kemiripan ini terjadi pada penggunaan benang pintal serta penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan. Namun ketika Kota Cirebon perubahan dramatis dan diikuti dengan perubahan pada batiknya, batik Tuban tetap seperti semula.

Salah satu ciri khas batik gedog dari Tuban adalah serta benangnya yang kasar. Menurut Aslichah, seorang pedagang batik gedog Tuban, biasanya perajin membuat tiga variasi ukuran kain tenun selain ukuran baku tersebut. Yakni panjang dua meter, tiga meter dan ukuran khusus untuk taplak atau keperluan lainnya.

Selain panjang kain yang ebragam, setiap kain juga memiliki kerapatan yang berbeda. Struktur tenunan yang merangkai kain itu akan menentukan bentuk perlakuan yang akan diterima oleh kain selanjutnya. Misalnya kain seser yang mempunyai kerapatan rendah. Jalinan benang penyusun kain tersusun jarang-jarang sehingga terdapat celah antarbenang yang berbentuk kotak-kotak. Akibatnya kain seser ini tidak dapat diberi motif batik seperti yang saat ini sedang dikembangkan oleh para perajin.

“Kalau mau dibatik, mending buat tenun putihan saja yang tenunnannya rapat dan kainnya lemas,” kata Aslicah. Yang juga menjelaskan bahwa sulur warna-warni dalam selembar kain yang dihasilkan tergantung pada benang, jadi bukan dari celupannya. Setiap kali menenun, setiap benang sudah diberi warna sendiri. Sehingga warna yang dihasilkan dalam setiap helai kain merupakan ‘warna asli’ kain itu.

Hal ini berbeda dengan beberapa jenis kain tenun yang pewarnaannya dilakukan usai kain selesai ditenun. “Khusus untuk tenun gedog batik, proses pembatikan dilakukan setelah kain putihan selesai ditenun. Prosesnya sama seperti membatik kain biasa,” tambahnya.

Guna memperoleh warna batik yang sangat alami, bisa dilakukan dengan inovasi alami. “Semua daun, pohon serta tumbuhan, merupakan sumber warna alam. Ciri khas batik gedog warnanya nila, agak kegelapan sebagai identitas batik gedog. Sedang motif yang tetap abadi adalah panjiori, kenongo, uleren, ganggeng, panji krentil, panji serong dan panji konang. “Tapi konon batik panji krentil, panji serong dan panji konang adalah batik yang dikenakan pangeran. Batik panji krentil berwarna nila diyakini bisa mengusir penyakit,” kata Aslicah.
(tubanstore, memecay,batikindonesia)

Diskusi

One thought on “Batik Gedog

  1. Di Desa Karang Kec Semanding Kab Tuban juga ada lho Batik..Dulu sangat terkenal dimana-mana,,dan sudah dieksport keluar negeri..
    Kalu mau tahu lebuh banyak tentang BatiK,,boleh kok datang di Bilik Batik Citra Tuban, milik ibu Emmy ini..

    Posted by Ireng | 5 September 2009, 11:35

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: