//
you're reading...
kabar tuban

Tanggul Tegalsari Jebol

Lima Rumah Hanyut, Ribuan KK Mengungsi

TaLinggul Bengawan Solo di perbatasan Desa Banjar dan Tegalsari, Kecamatan Widang, kemarin (1/3) sekitar pukul 03.30 jebol. Jebolnya tanggul tersebut menyebabkan banjir bandang yang langsung merendam ribuan hektare (ha) lahan pertanian dan ratusan rumah warga di beberapa desa.

Sampai kemarin siang, tanggul yang putus sudah mencapai sekitar 90 meter. Tanggul yang sebelumnya sudah diperbaiki akibat jebol akhir tahun 2007 lalu juga sudah putus. Untuk mencapai lokasi tanggul yang putus, wartawan koran ini harus jalan kaki sekitar dua kilometer dari pusat Desa Banjar.

Tanda-tanda bakal jebolnya tanggul sudah mulai terlihat sejak Sabtu (28/2) malam. Saat itu, air terus menunjukkan peningkatan dan hampir meluber. Jupran, salah satu warga Banjar mengungkapkan, malam itu ada sekitar 100 warga yang berjaga-jaga didekat tanggul. Saat tanggul putus, warga langsung berhamburan pulang untuk menyelamatkan barang-barangnya. ”Kami sudah tiga hari tiga malam jaga, tapi akhirnya tetap jebol,” tutur Jupran.

Pemukiman penduduk di sejumlah desa yang sebelumnya belum kebanjiran, pasca putusnya tanggul di perbatasan Tegalsari-Banjar itu akhirnya juga terendam. Di Desa Kedungharjo ketinggian air dipemukiman warga sudah mencapai sekitar 50 cm. Bahkan ada sebagian yang sudah mencapai hampir satu meter. Di desa ini ada 412 rumah yang tergenang. Selain itu ada satu rumah yang roboh. ”Warga masih bertahan di rumah dengan membuat antru,” ujar Kades Kedungharjo Simanjaya.

Kondisi yang sama juga dialami warga di Desa Tegalsari dan Banjar. Sebagian rumah warga di Dusun Mbaran dan Salen, keduanya di Desa Tegalsari kini juga kebanjiran. Sedangkan akses jalan poros desa menuju Desa Tegalsari, Kedungharjo, Tegalrejo, dan Simorejo lumpuh. Sebab, jalan di perbatasan Banjar dan Tegalsari sudah tergenang.

Sejauh ini sebagian warga Desa Banjar sudah menyiapkan tempat pengungsian di atas tanggul. ”Ya untuk jaga-jaga kalau air terus naik,” tutur Mbah Kasni, salah satu warga. Sementara itu, dampak jebolnya tanggul Tegalsari mengakibatkan lima rumah warga di Desa Pesanggrahan dan Mojoasem, Kecamatan Laren, Lamongan hanyut terbawa arus banjir. “Lima rumah itu yang tiga unit di Pesangrahan dan dua unit di Mojoasem,” kata Camat Laren, Rusgianto kepada Radar Bojonegoro, kemarin.

Selain itu, ungkap dia, jebolnya tangkis Bengawan Solo di Widang juga mengakibatkan 2.473 kepala keluarga (KK) mengungsi. “Sampai sekarang ini (pukul 15.00, kemarin) sejumlah itu. Padahal, pagi tadi (kemarin, Red) baru 1.917 KK yang ngungsi,” katanya. Menurut dia, para korban mengungsi di rumah-rumah warga atau familinya yang aman. Namun, banyak juga yang mengungsi di atas tangkis Bengawan Solo di bawah tenda darurat. “Bisa dipastikan jumlah pengungsi akan terus bertambah karena luapan banjir dari tangkis yang jebol di Widang masih terus mengalir di wilayah Laren,” ujarnya.

Rusgianto mengungkapkan, dari 13 desa yang ada di Kecamatan Laren, yang sudah terjadi banjir ada 10 desa. “Tinggal Desa Jabung, Gelap dan Dateng yang relatif belum ‘tenggelam’ meski sudah ada satu dua rumah yang kemasukan air,” terangnya.

Berdasarkan data Satlak PB Lamongan sampai pukul 12.00 kemarin, banjir telah melanda 11 dari 27 kecamatan dan 82 desa yang ada di Kota Soto. Sedangkan rumah warga yang kebanjiran 5.033 unit yang dihuni 18.212 jiwa dan 2.588 jiwa di antaranya mengungsi. Warga mengungsi di Babat dan Laren. “Data tersebut sangat mungkin bertambah karena didata sebelum terjadi jebolnya tangkis di Widang,” kata Kepala Bakesbangpollinmas Lamongan Imam Trisno Edy.

Menurut Wakil Bupati Lamongan yang juga Ketua Satlak PB Lamongan Tsalits Fahami, meluapnya Bengawan Solo saat ini lebih besar dibanding tahun lalu yang menimbulkan banjir besar di Lamongan. “Ketinggian air Bengawan Solo di Babat tadi malam (dini hari kemarin, Red) mencapai 8,96 peilschaal, sedangkan saat banjir tahun lalu hanya 8,67 dan membuat jebol tangkis di Widang. Tapi, alhamdulillah, memasuki siang terus mengalami penurunan,” ungkapnya.

Meski demikian, dikhawatirkan dampak luapan Bengawan Solo kali ini juga sebesar tahun lalu karena tangkis di Widang jebol dini hari kemarin. “Saat ini kami terus siaga menghadapi banjir seperti tahun lalu. Sebanyak 50 ton beras dan berbagai bahan makanan siap saji serta bahan lain seperti 45.000 glangsing serta jenset telah disalurkan ke lokasi banjir,” ujarnya.

Sementara itu, Pangdam V Brawijaya Mayor Jenderal Suwarna melakukan sidak banjir di Lamongan. Mantan komandan paspampres itu menuju Desa Bedahan, Babat yang telah tenggelam oleh banjir. Kodam V Brawijaya telah mengirim bantuan 10 unit perahu karet beserta personelnya.

Untuk jalur lalu lintas dari Lamongan menuju Bojonegoro lewat Baureno, masih ditutup hingga kemarin. “Lalu lintas dari timur menuju Bojonegoro dialihkan melalui Pakah, Rengel, Tuban. Yang lewat jalur selatan Babat-Ngimbang-Bluluk-Sukorame-Kedungadem-Bojonegoro juga ditutup karena badan jalan tidak kuat dilewati kendaraan berat,” kata Kasatlantas Polres Lamongan, AKP Noerijanto.

Banjir Bengawan Solo juga menyebabkan belasan sekolah di Tuban ikut menjadi korban. Terbanyak berada di Kecamatan Widang. Data yang diperoleh koran ini menyebutkan tak hanya sekolah dasar saja yang kebanjiran. Namun, sejumlah MI dan MTs juga ikut terendam. Sampai kemarin, SD di Widang yang kebanjiran ada tujuh. Yakni SDN Simorejo I dan II, SDN Kedungharjo, SDN Tegalrejo, SDN Tegalsari I, SDN Tegalsari II di Dusun Mbaran, dan SDN Compreng II di Dusun Temas.

Beberapa madrasah yang juga ikut kebanjiran. Antara lain MI Tegalsari, MI Dermalang, MI Islamiyah Simorejo, MI Kedungharjo, dan MTs Mambaul Ulum. Selain itu, SMP satu atap yang berada di Desa Tegalrejo juga ikut kebanjiran. ”Nanti siswanya kan bisa digabung ke sekolah induk,” tutur Plt Kadinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Sutrisno.

Dari Bojonegoro, genangan air banjir di wilayah Bojonegoro mulai kemarin pagi surut drastis akibat tanggul jebol di sejumlah wilayah Kota Ledre ini dan Tuban. “Surutnya banjir memang tak lepas dari jebolnya tanggul Widang,” kata Plh Sekkab Bojonegoro Suhadi Moeljono kemarin. Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro Pudjo Buntoro menjelaskan, tanggul di Widang sejak sehari sebelumnya airnya terus melimpah. Upaya penanganan dilakukan dengan membuat igiran. Namun, karena air terus melimpah akhirnya tanggul tersebut jebol.

Dia menjelaskan, selain jebolnya tanggul di Widang, tanggul di Kecamatan Kanor yang jebol bertambah. Pada awalnya, tanggul sepanjang 10 meter di pintu masuk sebuah Ponpes di Desa Sembung, jebol karena tidak mampu mengamankan serbuan air Bengawan Solo. Setelah itu, disusul dengan jebolnya tanggul di Desa Semambung. Begitu juga tanggul lainnya, jebol sepanjang 200 meter. Puluhan meter di tanggul Desa Cangaan dan lainnya di tanggul Desa Pilang. Akibat tanggul di Widang dan Kanor jebol, ketinggian air di Bengawan Solo menyusut dengan cepat.

Ketinggian air Bengawan Solo pada papan duga di Bojonegoro, pada pukul 09.00 kemarin mencapai 14,87 meter (siaga II). Sementara di Karangnongko, Kecamatan Ngraho, 70 km ke arah hulu dari Kota Bojonegoro, surut drastis menjadi 25,54 meter jauh di bawah siaga banjir. Sementara pada pukul 16.00 kemarin, ketinggian air Bengawan Solo di Bojonegoro 14,32 sementara di Karangnongko 24,96. Padahal sehari sebelumnya, ketinggian air Bengawan Solo di Bojonegoro 15,54 meter.

Sementara itu, data di Satlak PBP Bojonegoro menyebutkan, jumlah pengungsi khusus di Kecamatan Kanor akibat jebolnya tanggul di sejumlah lokasi itu sebanyak 938 rumah. Sementara, warga yang menjadi korban banjir 5.075 KK (18.354 jiwa) dan 3.879 jiwa di antaranya mengungsi. “Yang jelas proses evakuasi masih tetap dilakukan sejak pagi tadi,” ujar Suhadi Moeljono.

Kepala Bakesbangpol Linmas Bojonegoro Lukman Wafi menambahkan, puncak banjir di Bojonegoro menyebabkan 14 kecamatan terendam air serta 182 desa tergenang. Adapun rumah tergenang 21.012 unit dengan jumlah 26.114 KK dengan 93.160 jiwa. Sedangkan total pengungsinya 13.778 yang tersebar di 51 titik dengan korban jiwa 7 orang.

Untuk jalan desa yang tergenang sepanjang 213.900 meter, sawah 8.532 ha, serta ladang 941 ha. Sedangkan musala yang terendam 193 dan masjid 39. Dan lembaga pendidikan yang tergenang, TK 18 unit, SD 101, dan SMP 2 unit. Pada bagian lain, jalur jalan raya Bojonegoro-Surabaya ditutup total akibat tanggul kanan di Babat, Lamongan, kondisinya kritis. “Air meluber dengan deras di sejumlah lokasi,” kata Kasatlantas Polres Bojonegoro AKP Sudirman. Dengan tutupnya jalur Bojonegoro-Surabaya, kendaraan dialihkan lewat jalur jalan raya Plumpang, Tuban di bagian utara. Sedangkan ke selatan dilewatkan Kedungadem bagi yang menuju Bojonegoro atau sebaliknya.

Dari dalam Kota Bojonegoro, hingga kemarin masih ada beberapa jalan poros di sekitar kota yang terputus akibat terendam banjir. Antara lain Jalan poros antara Desa Campurejo dan Desa Semanding, keduanya masuk Kecamatan Kota Bojonegoro. Ketinggian air yang merendam jalan poros itu mencapai 50 cm.

Selain itu, jalan poros menuju Desa Bogo, Kecamatan Kapas juga belum berfungsi. Sebab, jalan makadam itu masih terendam air dengan ketinggian lebih dari lutut orang dewasa. Akibatnya, arus lalu lintas dari dan ke desa itu hanya dapat ditempuh dengan menggunakan rakit. ”Semoga cepat surut mas. Kasihan anak-anak yang mau sekolah,” ujar Rizal, 37, salah satu warga setempat.

(radarbojonegoro)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: