//
archives

Wisata Tuban

This category contains 24 posts

Batik Gedog Tuban Kaya Makna dan Fungsi

Batik gedog Tuban kaya motif, warna dan fungsi. Satu ibu rumah tangga di Tuban memiliki lima lembar kain batik untuk berbagai keperluan berbeda. Di Tuban, terdapat 100 ragam motif batik, 40 diantaranya sudah dipatenkan pemerintah daerah setempat sebagai upaya pelestarian budaya. Yang juga khas dari batik Tuban adalah konsistensi perajin untuk melestarikan batik tulis. Mudah saja membedakan batik Tuban, karena batik yang diaplikasikan pada kain tenun hingga katun, kebanyakan adalah batik tulis. Hanya beberapa perajin saja yang masih mengaplikasikan batik cap di Tuban. Baca lebih lanjut

Batik Gedog Tuban Bisa Jadi Batik “Gejrek”

20091012143226-membatik121009(ANTARA News) – Dengan duduk “berselonjor” di atas lantai tanah, Rasti (50), terus memainkan kedua tangannya di atas peralatan tenun dari kayu jati yang bernama “kemplongan”.

Dengan tempo yang tetap, terdengar suara dog, dog, dog berulang-ulang, sesekali suara itu berhenti, karena warga Desa Kedungrejo itu, harus menyambung benang “lawe” yang putus.

“Saya belajar membuat kain bahan batik gedog sejak kecil dari mbah-mbah,” katanya, kepada ANTARA, tanpa menoleh dari peralatan “Kemplongannya”. Tidak jauh dari tempatnya duduk saudaranya, Ratmi (47), memilah benang “lawe”, yang ditempatkan di atas peralatan selebar 0,30 meter yang bisa diputar.

Di bagian luar rumah, Lastri (43), yang juga masih saudaranya, duduk didepan rumah di dekat pintu sedang menyusun “benang lawe”, untuk dipersiapkan dimasukkan keperalatan “kemplongan”.

Sementara itu, untuk menenun benang “lawe”, agar bisa menjadi bahan batik gedog, siap jadi yang panjangnya bisa 2 meter atau 3 meter, masing-masing lebarnya 85 cm, membutuhkan waktu berkisar dua hari.

Perhitungannya, setiap potong bahan kain batik gedog itu, membutuhkan benang “lawe” sekitar 1,5 kilogram. Sebagaimana yang dijelaskan Ketua Kelompok Batik Gedog Sekar Ayu Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Uswatun Hasanah, batik gedog yang sudah dikenal akrab masyarakat, sesungguhnya nama aslinya batik Jawa.

Namun, lanjutnya, karena dalam proses pembuatannya, selalu terdengar suara dog, ketika perajin merapatkan benang “lawe” dengan peralatan “uro”, salah satu bagian peralatan “kemplongan”. Berangkat dari itu, tenun karya perajin batik setempat dikenal dengan nama batik gedog.

Dalam perkembangannya, menurut Uswatun dan Rasti, suara dog yang ditimbulkan dari peralatan “kemplongan” itu, bunyinya sudah berubah. Hampir mayoritas suaranya sudah tidak lagi, dog, namun “jrek”. Masalahnya, warga setempat sejak lima tahun yang lalu, mulai mengganti “cacak kemplongan” dengan bambu.

Digantinya salah satu peralatan itu, ketika seorang perajin merapatkan benang “lawe” dengan “uro”, tidak terdengar lagi suara dog. Suaranya berubah menjadi “jrek”, karena munculnya suara dog, berasal dari pantulan kayu yang lentur, ketika perajin merapatkan benang “lawe”.

“Kalau semua perajin sudah mengganti peralatan dengan bambu, bisa muncul nama baru di sini batik `gejrek`,” kata Uswatun Hasanah dengan nada bersungguh-sungguh.

Dalam buku “Batik Fabled Cloth of Java” karangan Inger McCabe Elliot tertulis, ada kemiripan batik gedog Tuban dengan batik Cirebon, yang tumbuh pertengahan abad XIX. Kemiripan ini terjadi pada penggunaan benang pintal dan penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan.

Perbedaannya, batik gedog Tuban tetap bertahan dan terus berkembang dengan warna khas nila, kegelap-gelapan. Sedangkan batik Cirebon, mengalami perubahan, karena adanya perubahan Kota Cirebon sendiri dalam berbagai bidang.

“Batik gedog warna biru masih dipertahankan, karena diyakini bisa menyembuhkan penyakit,” kata Uswatun.

Meski berkembang, menurut dia, bukan berarti batik gedog Tuban tidak menghadapi masalah. Semakin tahun, jumlah perajin tahun terus menyusut yang semula di tahun 1980 jumlahnya 500 perajin, sekarang ini hanya berkisar 200 perajin.

“Pekerjaan menenun batik gedog hanya diminati orang tua, sedangkan generasi muda sama sekali tidak ada yang berminat belajar menenun, lebih memilih membatik,” katanya menjelaskan.

Dia mencontohkan, di keluarga Rasti, hingga ibunya, Ny. Rasiam (90), secara turun temurun menekuni menenun batik gedog. Sayangnya, Tatik (20), cucu Rasiam tidak bersedia belajar menenun batik gedog, hanya belajar membatik.

“Karena generasi muda di sini tidak ada yang bersedia menenun, akhirnya bisa saja batik gedog punah,” katanya dengan nada prihatin. Itupun pekerjaan menenun batik gedog yang dilakukan perajin, hanya dilakukan pada musim kemarau. Pada musim hujan, perajin batik gedog beralih bekerja sebagai petani, karena menenun batik gedog, masih dianggap sebagai pekerjaan sambilan.

Dengan kondisi itu, kata Uswatun, sering mempengaruhi penjualan batik gedog, karena keterlambatan dalam pemproses bahan batik gedog. “Kalau musim kemarau begini saya berusaha menyetok bahan batik gedog sebanyak-banyaknya,” jelasnya.

Padahal, sebagaimana diungkapkan Uswatun, keberadaan batik gedog, sama sekali tidak terpengaruh dengan masalah ekonomi, seperti krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak 1997 lalu. Alasannya, semua bahan batik gedog dihasilkan dari wilayah setempat.

Di sejumlah desa di Kecamatan Kerek, Tuban, yang dikenal sebagai sentra perajin batik gedog, mulai Desa Kedungrejo, Jarorejo, Margorejo, Gaji dan desa lainnya, hampir semua petaninya, menanam kapuk kapas yang dimanfaatkan untuk membuat “lawe”.

Menurut dia, kebutuhan kapas yang diperkirakan mencapai 1 ton lebih per bulan, tidak pernah ada masalah. Sebab, kalau stok kapas kosong, ada pasokan kapas produksi Kudus, Jawa Tengah. Dalam pewarnaan, semua bahannya produksi lokal dari bahan alami berbagai macam jenis pohon.

Untuk warna biru memanfaatkan daun indigo yang bertumbuhan di wilayah setempat. Sedangkan warna coklat bisa memanfaatkan kulit kayu mahoni, tinggi, secang jaranan yang tidak sulit di dapat di berbagai tempat.

Dengan kekhasan batik gedog yang tradisional itulah, semakin tahun keberadaannya diburu pembeli lokal dan luar negeri, di antaranya Jepang dan Amerika Serikat.

Pembeli tertarik batik gedog, karena bahannya yang kasar dan tradisional dengan berbagai motif batik yang merupakan perpaduan antara pengaruh kebudayaan Jawa, Islam dan Tiongkok.

Uswatun mengaku, pemasaran khusus batik gedog produksinya di Bali, bisa mencapai 50 potong per bulannya terdiri dari berbagai jenis batik gedog mulai selendang, jarit orang Bali dan kain baju batik gedog dengan harga mulai terendah Rp50.000,00 hingga Rp150.000,00 per potong.

“Melihat prospek batik gedog yang semakin diminati saya tetap berusaha mempertahankan dengan membuat motif baru, termasuk mendorong warga untuk menenun batik gedog dan hasilnya saya beli dengan harga tinggi,” katanya.

Dengan jumlah 200 perajin batik, sekitar 100 perajin diantaranya perajin batik gedog, hasilnya dibeli dengan harga mulai Rp40.000,00 hingga Rp80.000,00 per potongnya, bergantung kualitas.(*)

Ditarget Tuntas Akhir Bulan

Renovasi Pasar Sore dan Pasar Atom Tuban

Pembangunan pasar sore dan pasar atom Tuban terus dikebut pengerjaannya. Saat ini, pembangunan sudah mencapai sekitar 90 persen.

”Jadi hampir rampung,” kata Kabid Perdagangan Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban Budi Wiyana kemarin saat ditemui Radar Bojonegoro.

Diperkirakan, akhir bulan ini proyek revitalisasi kedua pasar yang berada di kawasan Pantai Boom itu sudah tuntas. Setelah proyek selesai, tutur Budi, selama enam bulan berikutnya dilakukan pemeliharaan. Setelah itu, kedua pasar tersebut bisa difungsikan kembali.

Budi menjelaskan, rencananya untuk pasar atom terdapat 150 kios dan los. Sementara di pasar sore sekitar 200 kios dan los. Kios dan los tersebut diperuntukkan bagi para pedagang yang sekarang menempati kawasan Jalan Yos Sudarso. Selain itu, sebagian juga diperuntukkan pedagang lainnya. ”Namun konsekuensinya tidak boleh setengah-setengah dan tidak boleh dialihkan orang lain. Sehingga, kedepan tidak muncul lagi kios dan los dipakai untuk pemukiman,” kata dia.

Budi menambahkan, setelah pembangunan usai, selanjutnya Pemkab Tuban juga merencanakan akan merenovasi pasar sore tahap kedua. Kali ini difokuskan untuk merenovasi bagian belakang. (zak)

Pondok Pesantren “Perut Bumi”

Sejarah lampau mencatat,Tuban adalah sebuah kota pelabuhan penting di Kerajaan Majapahit. Di abad ke-14,Tuban menjadi pintu masuk ke kerajaan terbesar yang pernah ada di Indonesia. Dalam sejarah penyebaran agama Islam di tanah Jawa, Tuban pun berperan penting. Para walisongo (para penyebar agama Islam di pulau Jawa berjumlah sembilan wali) dan wali-wali lain yang pernah ada, telah merambahi wilayah Tuban. Di pesisir Utara Jawa Timur itu, salah satu dari walisongo yaitu Sunan Bonang dimakamkan di kota ini.

Tuban berarti “Jeram” dalam bahasa Kawi, yang berarti air terjun. Di kota yang memiliki panjang pantai 65 kilometer itu memang terdapat air terjun yang terletak di kecamatan Singgahan (air terjun nglirip) dan di kecamatan Semanding ( air terjun banyu langse ).

Tuban berada kurang lebih 96 Km dari kota Surabaya. “Kota Seribu Gua”. Demikian sebutan lain dari kota berhawa panas ini. Di pusat kota Tuban terdapat Gua Akbar yang letaknya di dekat pasar. Oleh pemerintah setempat dijadikan obyek wisata alam. Di kecamatan Montong, di tengah kawasan hujan jati terdapat gua yang baru saja ditemukan yakni Gua Putri Asih. Selain itu ada juga Gua Ngerong, sebuah gua air yang memiliki sungai. Bagi para peminat selusur gua (caving) tak salah jika Tuban dijadikan tujuan utama.

Pesantren—tempat santri (murid) belajar mengaji Islam—juga bertebaran di Tuban. Seperti halnya Kediri, Jombang, Lamongan, Gresik, atau di beberapa kabupaten lain di Jawa Timur. Salah satunya Pesantren di Langitan (Tuban), yang dipimpin KH Abdullah Faqih, sebuah pesantren yang memiliki 5500 santri. Di kalangan NU (Nahdatul Ulama) dan perpolitikan nasional, Pesantren Langitan yang cukup penting. Para Indonesianis menyebut NU sebagai masyarakat Islam tradisional. NU adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia dikenal lekat dengan dunia pesantren dimana nilai-nilai tradisi berusaha dijaga.

Dari sekian banyak pesantren yang ada di Jawa Timur, tepatnya di Dusun Wire, Tuban, terdapat pesantren (ponpes:pondok pesantren) yang letaknya sangat ekstrem; yakni di dalam tanah.Tidak seperti kebanyakan pesantren lainnya yang biasanya berada di permukaan tanah.Tanah di Dusun Wire itu tergolong berbatu dan keras.Tak ada yang menyangka jika di dekat perumahan penduduk itu terdapat sebuah gua-gua. Di bawah tanah tandus dan berbatu-batu itulah di dalamnya terdapat gua-gua lokasi pesantren itu berada.

Saat tiba di sebuah pelataran luas yang tandus itu, saya tak mengira jika di bawah kaki saya terdapat gua-gua. Di depan gerbang pintu masuk, dibawah kibaran bendera hitam (bendera Imam Mahdi) bertuliskan huruf Arab, tertulis di papan nama: Pesantren Syeh Maulana Maghrobi. Nama ini diambil dari seorang wali (orang suci) yang dahulu pernah ada di tanah Jawa. Pesantren ini lebih dikenal dengan sebutan Ponpes Perut Bumi, untuk mewakili letaknya yang berada di dalam tanah. Istilah “perut bumi” dalam bahasa Inggris bisa diterjemahkan menjadi “earth bottom”.

Ponpes Perut Bumi berada di dalam tanah seluas tiga hektar. Menurut pengakuan KH Subhan Mubarok, pimpinan ponpes Perut Bumi, setelah menerima bisikan gaib di malam satu Suro tahun 2001, segera ia membeli tanah yang berada di Kelurahan Kedungombo itu. Dahulu tempat itu adalah tempat pembuangan sampah dan sarang ular. Setelah tempat itu dibersihkan, lalu KH Subhan menyulap gua temuannya menjadi ponpes yang unik dan berdaya tarik tinggi.

Ponpes Perut Bumi dipagari tembok setinggi satu meter.Sebuah cekungan luas berhias taman nampak terlihat, dengan dinding-dinding batu yang mendominasi, di beberapa sisinya nampak seperti mulut gua. Huruf-huruf arab terlukis di dinding tembok di seberang pintu gerbang. Saat menuruni undakan tangga, di sebelah kanannya ada sebuah tempat untuk wudlu (bersuci) dan toilet.

Kiranya 14 meter dari tempat wudlu terdapat mulut gua yang menjorok ke dalam. Di dalam gua ini terdapat sebuah ruangan besar yang digunakan untuk masjid. Tempat ini diberi nama Gua Putri Ayu—diambil dari nama “penghuni” yang diyakini menjaga gua tersebut. Gua ini mampu menampung 600 jamaah, lengkap dengan lampu neon. Di bagian belakang masjid terdapat lobang pintu dengan sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk ritual semedi.

Di sebelah kanan mulut Gua Putri Ayu terdapat sebuah kamar berkarpet biru yang biasa untuk menerima tamu, lengkap dengan toilet. Di kamar ini saya sempat bertemu Asmuni, salah satu pelawak senior Srimulat bersama kru televisi lokal. Ia mengagumi keindahan tempat ini dan berniat mengunjungi Ponpes Perut Bumi lagi. “Saya baru mengetahui di Tuban ada pesantren seperti ini,” ujar Asmuni takjub. Pandangan matanya berkali-kali menyelidik dinding-dinding gua di kamar berbatu itu.

Di sebelah Utara gerbang utama terdapat lorong. Di kanan-kiri lorong terdapat lubang-lubang gua dengan lantai terplester, untuk sementara digunakan sebagai kamar-kamar santri. Di sebelah kanan lorong terdapat ruangan kecil tertutup pintu kecil yang jarang dibuka. Ruangan kecil itu difungsikan sebagai ruang bertapa.

Tak jauh dari tempat itu, terdapat ruangan khusus dengan lantai dilapisi karpet tebal. Ruang di gua ini mengingatkan saya pada setting film silat, seperti sebuah istana-istana jaman dahulu. Kiranya di ruangan 4X5 meter ini, KH Subhan biasa menerima tamu-tamu penting. Di balik ruangan ini masih terdapat gua-gua yang lain seperti petilasan Sunan Kalijaga dan Syeh Jangkung, dan bekas pijakan kaki Syeh Maulana Maghrobi. Ketiganya adalah para wali yang diyakini Abah pernah bertapa di gua itu. Di ruangan yang beratap rendah bernama Gua Atas Angin, digunakan untuk Taman Pendidikan Al Quran untuk anak-anak kecil.

Abah, panggilan lain KH Subhan Mubarok, sangat terbuka menerima tamu. Setiap hari orang datang silih berganti untuk meminta didoakan kiai atau sekadar melihat-lihat pesantren yang berada di Kecamatan Semanding itu. Seperti halnya Anton, seorang mahasiswa yang kuliah di Jakarta, sudah tiga hari tinggal di dalam gua. Ia meminta doa dan restu kiai Subhan agar bisa segera mendapat pekerjaan. Pada hari ketiga sang kiai menyuruhnya kembali ke Jakarta. “Uwis leh ndang mangkat to neng Jakarta, tak dongake lan iki gawanen ” (Udah ‘nak berberangkatlah ke Jakarta, saya doakan dan ini bawalah), ujar Kiai Subhan sambil memberikan kertas berisi doa-doa bertuliskan Arab, tangan kanannya memegang kepala Anton.

Mendirikan pesantren di bawah tanah (gua) bukanlah tanpa hambatan. Saat Abah mau mendirikan ponpes, Bupati dan Pemerintah daerah (Pemda) Tuban melarangnya; dengan alasan gua tersebut adalah milik (aset) negara. Tapi Abah tak menghiraukan peringatan Haeny Rini Widyastuti, Bupati Tuban. Abah tetap bersiteguh dengan prinsipnya dan pesan gaib yang telah ia terima. Dengan nada keras ia mengancam akan melawan pemda atau siapa pun yang berani mengambil alih gua temuannya. Gua tersebut memang berada di tanah yang telah berstatus milik Abah. Kasus ini pernah ramai di media massa.

Walaupun kesulitan dana, sampai saat ini Abah tetap berjuang membangun ponpes Perut Bumi yang berusia tiga tahun itu. “Ayo-ayo awan-awan ora podo turu, wektune nyambut gawe,” perintah Abah menyuruh santrinya untuk merapikan batu-batu di atas gua. Pembangunan pesantren itu telah menghabiskan dana 1,4 Milyar rupiah. Dana ia peroleh dari menjual beberapa mobilnya dan diambil dari kantongnya sendiri, serta sumbangan-sumbangan dari beberapa pengusaha di Jawa Timur. “Untuk mendirikan ponpes ini saya tidak menolak sumbangan dari manapun,” aku kiai kharismatik ini. Abah hanya berprinsip ia tidak pernah meminta-minta sumbangan.

“Siapa saja yang pernah menyumbang ponpes Perut Bumi?” tanya saya.“Farida Pasha, seorang artis sinetron,“ jawab Abah. Farida Pasha adalah pemeran tokoh Mak Lampir dalam sinetron seri Misteri Gunung Berapi. “Ia salah satu penyumbang rutin diatas satu juta rupiah untuk pembangunan ponpes Perut Bumi,” aku Abah. Sementara R. Hartono, seorang jenderal dimasa pemerintahan Suharto, pernah menyumbang 20 juta rupiah untuk membantu membeli tanah di sekitar ponpes. Sumbangan lainnya ia terima dari kotak amal yang tersedia di gua. Sebagian lagi sumbangan dapat dari salaman tempel dari para tamu yang “berkonsultasi”.

Kesan keras memang tergambar dari raut wajah Abah. Abah adalah seorang kiai yang sederhana. Dalam kesehariannya Abah tetap turun tangan mengangkat batu dan membantu para santri membenahi gua. “Kalau tak ada tamu biasanya Abah hanya memakai singlet dan bercelana pendek kerja bersama kita,” ujar seorang santri bernama Adityawarman.

Abah bukanlah penganut Islam garis keras. Prinsip keberagaman ia simbolkan dari beragam batu yang menyusun gua-gua di ponpes Perut Bumi. “Di sini ada berbagai macam bebatuan yang bercampur menjadi satu”, ujar lelaki asal Modo, Lamongan. Abah pun tak pernah membeda-bedakan etnis atau latar agama para tamunya. “Di pesantren ini,” tutur Abah, “diajarkan untuk menghormati agama-agama selain Islam, kami ingin meng-islah-kan (merukunkan) umat beragama di Indonesia,” ujar lelaki yang berusia 58 tahun.

Metode pendidikan Pesantren Perut Bumi mengacu pada kurikulum Langitan. Di sini kitab kuning, fiqih (hukum Islam), ilmu Hikmah, tasawuf (mistik Islam), serta ilmu kanuragan (bela diri) dan tenaga dalam diajarkan untuk para santri. “Ajaran Perut Bumi bukanlah ajaran sesat dan keras, di sini mengacu pada Al Quran dan Hadist Nabi (Muhammad),” ujar kiai ini dengan nada tegas. “Di sini pun tidak diajarkan untuk merusak atau membunuh,” jelas kiai yang pernah menimba ilmu di berbagai pesantren termasuk Langitan. Abah masih melanjutkan,“Tujuan dirikan pesantren untuk membina santri agar berakhlak bagus dan berbudi Timur.” Dalam tasawuf memang dikenal sebagai aliran Islam yang sangat toleran terhadap keberagaman beragama.

Tempat ini bukanlah tempat tujuan wisata. Tempat ini juga bukan sebuah gua yang biasa dikeramatkan dengan sesaji layaknya tradisi di Pulau Jawa. Di sinilah tempat para santri digembleng belajar Ilmu agama Islam (Tauhid). Di tempat ini telah 18 pecandu narkoba disembuhkan Abah. Hingga saat ini Abah masih membatasi jumlah santri yang akan belajar di Perut Bumi. Abah ingin merampungkan ponpes yang masih dalam proses membangun.

Selain untuk mengaji, pada malam Jumat Pon, tepat jam 12 malam di pesantren ini biasa diadakan isthigosah (dzikir dan doa bersama) yang terbuka untuk umum. Siraman ruhani dan pesan-pesan kedamaian sering diutarakan Abah kepada para tamunya. Abah termasuk kiai yang mengecam tindakan pengeboman di beberapa tempat di Indonesia. Abah sangat membenci orang-orang yang nekad membunuh dan merusak atas nama agama.

Soal politik nasional Abah tidaklah buta. Abah bersama 46 kiai lainnya (termasuk KH Abdullah Faqih dari Langitan) adalah pendukung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam sebuah tabloid di tahun 2000, ia pernah meramalkan bahwa wahyu kepresidenan ada pada SBY. “Wahyu itu setelah beralih dari Bung Karno berpindah ke Suharto, saat ini wahyu itu diterima Yudhoyono, sekarang terbukti kan!” ujarnya bersemangat. Menurutnya Habibie, Gus Dur, dan Megawati bukanlah presiden yang mendapat wahyu. “Mereka hanya presiden yang mengisi kekosongan,” jelas Abah. (akubaskoro.blogdrive.com)

Temukan Batu Bata Peninggalan Majapahit

Bangunan untuk pemujaan atau semacam tempat semedi banyak berdiri pada zaman Majapahit. Bangunan itu di antaranya diduga berdiri di lokasi yang kini dijadikan kompleks pemandian Nganget. Yakni, di petak 33A, RPH Kejuron, BKPH Bangilan, KPH Jatirogo.

Petilasan tersebut Selasa (25/8) lalu dikaji tim dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Mojokerto. Tim yang beranggotakan tiga orang tersebut turun setelah mendapat laporan tertulis Misbahul Munir, 31, pengasuh Ponpes Darul Hikmah di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban.

Saat turun ke lokasi, tim ini hanya menemukan banyak batu bata besar tertanam di permukaan tanah. Selebihnya, berserakan di sekitar sumber air yang mengandung belerang. Selain batu bata, ditemukan juga pecahan tembikar yang diduga hiasan dinding bangunan bersejarah.

Salah satu batu bata yang diduga menjadi bangunan sejarah tersebut dibawa pulang Munir dan ditunjukkan kepada wartawan koran ini kemarin (27/8). Batu bata tersebut memiliki panjang 28 sentimeter (cm); lebar 18,5 cm; dan tebal 8 cm. Kuswanto, ketua tim BP3 Trowulan yang dikonfirmasi wartawan koran ini melalui selulernya mengatakan, dari ukuran dan bentuknya, batu bata tersebut diduga kuat dibuat pada zaman Majapahit.

Atau, pada era sesudahnya, yakni masa wali. Batu bata yang sama namun ukurannya lebih kecil, kata dia, ditemukan di Masjid Demak, Kudus, Jateng. Dalam penelitian tersebut, Kuswanto belum bisa menyimpulkan pasti bentuk bangunan bersejarah yang dibangun dari batu bata tersebut. Sebab, di sekitar situs sejarah itu tidak ditemukan struktur (bangunan) dalam keadaan utuh. Hampir semua batu bata yang ditemukan juga dalam kondisi fragmen (tidak utuh).

Posisi batu bata tersebut, menurut arkeolog, ini diperkirakan sudah tidak pada posisi semula. Bahkan, sebagian dipakai untuk membangun keliling pemandian Nganget.

Dari posisi batu bata yang ditemukan di dekat sumber air Nganget yang berada di kaki pegunungan Nolodito atau Nolotidu (berdasar peta Belanda yang dibuat pada 1926), sangat mungkin bangunan yang didirikan dari batu bata tersebut tempat pemujaan atau tempat semedi. Karena tidak ada yang tahu kalau itu situs sejarah, batu bata tersebut dibiarkan berserakan.

Selama ini, Nganget lebih dikenal sebagai wana wisata daripada tempat bersejarahnya. Tempat ini menempati lahan hutan dengan luas total 0,33 hektare. (radar bojonegoro)

Berbuka Bubur Arab Gratis di Masjid Muhdlor

Tradisi berbuka puasa gratis tampaknya masih lekat di Masjid Muhdlor Jalan Pemuda, Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Kota-Tuban. Secara turun temurun pemangku masjid membagikan makanan berbuka kepada warga miskin di sekitarnya.

Demikian pula dalam puasa ramadan tahun 2009 ini. Sejak awal puasa, pengurus masjid membuat bubur yang diramu dengan masakan khas jazirah Arab. Bubur beras dicampur bumbu kare ini dibagikan gratis ke warga.

Karena tempat membuat bubur beraroma harum masakan kare di Masjid Muhdlor, sehingga mendapat julukan warga sebagai bubur Muhdlor. Dan saban puasa ramadan menjelang berbuka, masijd kecil ini dipadati warga sambil membawa mangkok dan piring. Mereka berebut bubur yang diyakini warga penuh berkah.

Menurut pengurus Masjid Muhdlor, Ahmad Agil bahwa tradisi ini sudah dilakukan turun temurun sejak kisaran tahun 1930-an. Awalnya pembuatan bubur ini untuk membantu para janda dan warga miskin yang kekurangan pangan saat puasa ramadan.

“Menurut cerita orangtua pendahulu kita, bubur ini dibuat dan dibagikan kepada janda dan warga miskin. Dulu diantar oleh takmir masjid, tapi sekarang mereka mengambil sendiri di masjid,” kata Agil kepada wartawan di sela-sela meramu bumbu untuk pembuatan bubur di masjid Muhdlor di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Kota, Tuban, Minggu (23/8/2009) siang.

Saban hari, disaat pusa Ramadhan, panitia masjid ini dibantu warga sekitar untuk membuat bubur. Mulai beras, bumbu-bumbu dan tenaga pembuatan dilakukan secara gotong royong.

Bubur beras ini terasa istimewa karena di samping beraroma kare, dicampur balungan dan daging kambing, garam, santan kental dan tentunya bumbu kare. Saban hari panitia menghabiskan 10 Kg beras.

Bubur ini dibuat di dalam tong besar dengan melibatkan banyak orang. Untuk mengaduknya saja selalu bergantian, semua dikerjakan kaum pria. Untuk menjadi bubur siap santap butuh waktu sekitar 3 jam membuatnya.

Mereka mulai meramu bumbu sekitar pukul 14.00 WIB, selanjutnya hingga sekitar 17.00 WIB bubur sudah matang dan siap dibagikan. “Tradisi ini tetap kita lakukan untuk membantu warga yang tidak mampu dalam menjalankan ibadah puasa ramadan,” kata M Lutfi, pengurus masjid setempat. (surabaya.detik.com)

Penghuni Boom Pilih Proaktif

Pantai Boom

Pantai Boom

Deadline Pemkab Tuban agar paling lambat 20 Agustus kawasan Pantai Boom steril dari penghuni liar direspon positif. Kemarin, sebagian penghuni liar itu sudah mulai membongkar bangunannya.

Puluhan bangunan rumah yang sebelumnya berdiri tegak, kini sudah rata dengan tanah. Mereka memindahkan barang-barang dan perabot rumah tangganya sendiri agar tidak melebihi tenggang waktu yang diberikan pemkab setempat. Satu persatu barang berharga diangkut dengan truk dan becak. ”Saya pindah ke Jombang. Kami harus menyadari karena ini tidak milik saya. Alhamdulillah, wis disangoni (sudah diberi uang saku, Red),” ujar perempuan yang mengaku bernama Rini disela-sela membersihkan rumahnya.

Meski demikian, ada juga beberapa penghuni yang terlihat santai dan belum merobohkan bangunan rumahnya. ”Santai saja, toh masih dua hari,” ujar Lasmi, salah satu penghuni kawasan setempat. Meski demikian, dia berjanji tetap akan meninggalkan lokasi tersebut sebelum tenggang waktu tiba.

Terpisah, Kepala Satpol PP Tuban Heri Muharwanto mengatakan, jika memang sampai 20 Agustus masih terlihat bangunan berdiri, pihaknya tidak segan-segan menertibkannya. ”Nanti pada saatnya kami tertibkan,” tegas dia kemarin.

Pemkab Tuban pada 14 Agustus lalu sudah mensosialisasikan pemulangan 114 penghuni liar kawasan Pantai Boom. Hal ini dikarenakan kawasan tersebut akan digunakan sebagai wisata budaya. Keputusan tersebut sudah disepakati para penghuni liar tersebut. Dan mereka mendapat uang saku Rp 500 ribu per kepala keluarga dari pemkab setempat. (radar bojonegoro)

Banyu Brubulan Sumber Abadi Warisan Sunan Kalijogo

Banyu BrubulanBanyu Brubulan yang ada di Dusun Mbok Gedhe Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Tuban, diyakini sebagai warisan Sunan Kalijogo tak berpengaruh meski terjadi kekeringan.

Sumber air di atas bukit kapur dusun selama bertahun-tahun mampu menghidupi warga dusun atau desa-desa sekitarnya. Kala itu sang Sunan hendak mencari air wudhu, namun tak ada sumber pun di wilayah itu. Hingga akhirnya dia tancapkan dua ranting dan saat dicabut ke luar airnya.

Banyu Brubulan pun menjadi gantungan hidup warga. Selain airnya bersih, dari sentra dua sumber bermuara hingga bertemu satu sungai. Air dari sungai menuruni bukit kapur di wilayah hutan Jati Perhutani KPH Tuban.

Informasi yang dihimpun detiksurabaya.com dari warga di lokasi Banyu Brubulan menyebutkan, di samping menjadi sentra pengambilan air bersih, sumber air yang sarat kisah ritual ini diyakini memiliki tuah. Wajar karena pembuat sumber air kembar yang dikelilingi sembilan pohon ingas ini adalah Sunan Kalijogo.

Putra Bupati Tuban Wilwatikto yang dilahirkan dengan nama R Said ini dikenal memiliki kedigdayaan pilih tanding. Dengan kesaktiannya pula dia mampu membuat bukit yang gersang ke luar airnya.

“Sejak itulah Banyu Brubulan ini ada. Ini cerita dari kakek buyut saya dulu,” kata Salekan (54), seorang pengambil air yang ditemui detiksurabaya.com di lokasi Banyu Brubulan di Dusun Mbok Gedhe, Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Tuban, Senin (10/8/2009).

Dikisahkan, kala itu Wali Songo ada agenda rapat mendadak di Goa Gembul, sekitar 5 Km arah selatan dari Banyu Brubulan. Sebelum rapat, para wali berkumpul di Pertigaan Kalbakal (kawasan pintu masuk Desa Jadi).

Siang begitu terik ketika para sunan akan berangkat dari Kalbakal. Di tengah perjalanan, tepatnya di bukit kapur pedukuhan Mbok Gedhe, memasuki waktu salat Dhuhur. Saat itulah Sunan Kalijogo diminta para wali membuat sumber air untuk keperluan wudhu. Setelah dua sumber dibuat, usai salat Dhuhur, Sunan Kalijogo menanam sembilan pohon ingas sebagai manifestasi keberadaan Wali Songo.

Kini legenda itu masih lekat di tengah warga Jadi. Sumber air yang disakralkan itu pun memiliki tuah. Di samping menjadi andalan sumber warga, airnya dipakai orang untuk memancing sumur yang kering.

“Kadang ada rombongan orang datang mengambil air, katanya dipakai untuk penglarisan dagangan. Ada juga yang mengambil air untuk menyembuhkan penyakit,” ujar Kastono (39), warga setempat di tempat sama.

Yang pasti sumber air ini berbeda dengan sumber air lainnya. Jika musim penghujan aliran airnya mengecil. Jika musim kemarau, justru airnya bertambah banyak.

Terlepas dari kebenarannya, kenyataannya Banyu Brubulan di Dusun Mbok Gedhe ini, sangat membantu warga Desa Jadi dan sekitarnya. Bahkan, tiap hari sejumlah truk tangki hilir mudik menyedot air dari sumber itu. Tangki tersebut mendistribusi air bersih untuk warga Desa Gesikan, Pambuhan, Dawung (semuanya di kecamatan Grabagan), Tegalrejo, Oro-Oro Ombo, Becok (di Kecamatan Merakurak), Jadi dan Desa Selang di Kecamatan Semanding. (detiksby.com)

Situs Sunan Bonang Akan Dibongkar

Pendapa Rante, merupakan dua situs yang bersejarah di komplek makam Sunan Bonang Tuban. Saat ini Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto sedang mengkaji untuk melakukan pemugaran dua situs bersejarah tersebut.

Senin kemarin (27/7) Kepala BP3 Trowulan, Aris Noviani bersama tim datang ke kompleks makam Sunan Bonang untuk mengkaji rencana pemugaran tersebut.

Menurut sejarah, Pendapa Rante adalah semacam tempat peseban atau pertemuan antar santri. Bangunan berukuran 6 x 4 meter ini hanya berupa atap bersirap kayu jati yang ditopang dengan empat pilar kayu. Bangunan ini tak berdinding dan hanya berlantai keras. Posisinya pendapa ini berada di dalam pelataran antara pintu gerbang utama dengan pintu gerbang masuk kompleks makam.

Dua situs bersejarah tersebut selama ini tak terlihat jelas karena tertutup pedagang souvenir di sekitar makam. Bahkan, tempat ini juga dipakai tempat meletakkan barang dagangan.

Aris Noviani kepada Radar Bojonegoro melalui ponselnya mengatakan pihaknya belum menentukan anggaran dalam pemugaran tersebut karena masih dalam kajian. Dia memastikan dari sirat khususnya yang sebagian besar dalam kondisi lapuk. “Ini yang akan diganti. Sirat yang masih utuh akan kami jadikan contoh untuk merekonstruksinya kembali,” kata dia.

Selain BP3, lanjut Aris, penggantian tersebut nantinya akan melibatkan orang dan kelompok yang peduli dengan pelestarian cagar budaya.

Banyak Pengunjung Tewas, Pemandian Bektiharjo Diruwat

BERITAJATIMcom – Dikarenakan banyak pengunjung yang tewas tenggelam di Pemandian Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban sejak beberapa bulan terakhir, sangat berdampak terhadap jumlah wisatawan yang datang.

Bahkan, penurunannya cukup drastis masyarakat yang datang ke tempat wisata pemandian yang terletak di Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban itu. Takut pengunjung semakin hari bertambah hilang, pengelola menggelar ruwatan di tempat pemandian Bektiharjo, Minggu (12/7/2009).

Tujuanya sepele, di antaranya agar tidak ada musibah atau jatuhnya korban tewas saat berwisata dan warga kembali memilih Bektiharjo untuk berwisata menghabiskan masa senggangnya.

Ruwatan tersebut sebenarnya telah disarankan oleh para sesepuh desa setempat. Sebab, sejumlah pengunjung yang tewas tenggelam di pemandian Bektiharjo dianggap akibat dari kurangnya sesajen yang dipasang saat tempat wisata itu dibuka pertama kali pada beberapa puluh tahun lalu.

“Untuk melengkapinya, maka saat ini kita laksanakan ruwatan,” kata Kepala Desa Bektiharjo, Restu, kepada beritajatim.com, Minggu (12/7/2009).

Diterangkan, dengan ruwatan tersebut pengelola dan warga sekitar berdoa, agar musibah tidak aka ada lagi, khususnya peristiwa pengunjung yang meninggal tenggelam di tempat tersebut.

Sementara itu, prosesi ritual yang diikuti para pengelola, Dinas Pariwisata Pemkab Tuban, Polsek Semanding dan para pengunjung itu, diawali dengan tumpengan bersama-sama di bawah pohon rindang yang berada di tengah lokasi pemandian.

Setelah itu, pengelola bersama juru kunci Bektiharjo melepas Ayam liring kuning yang dilanjutkan dengan penancapan bambu kuning persis di tengah lokasi wisata air alami itu.

“Memang bisa dibilang ini klenik. Namun, apa salahnya kita turuti petuah dari sesepuh. Sebab, semua orang tak mengharapkan ada musibah lagi,” sambung Kades Restu.

Selain melakukan ritual, pengelola Pemandian Bhektiharjo juga mengakui bahwa sistem keamanan masih kurang. Sebab, dua kolam renang dan satu sendang pemandian hanya ada seorang penjaga.

“Mestinya butuh beberapa penjaga agar setiap ada pengunung yang kalap bisa cepat ditolong,” katanya.

Sebenarnya, sejak sering terjadi orang kalap dan meninggal di pemandian, pihaknya telah mengusulkan kepada dinas terkait. Namun, sejauh ini belum ada tanggapan serius.

Kades Restu juga menjelaskan, banyaknya orang yang tewas kalap di pemandian Bhektiharjo, menurut sejumlah orang pintar, juga disebabkan binatang penunggu berupa kera liar di Bektiharjo yang tewas dibunuh warga setempat.

Terbukti, dari jumlahnya yang dulu ratusan ekor, saat ini tinggal empat ekor kera yang berada di Bektiharjo. Itu pun bisa terancam hilang. “Kalau dulu sudah tidak bisa dihitung jumlahnya, bisa sampai ratusan ekor. Selain dibunuh, kera tersebut juga kurang dipelihara dengan baik,” sambungnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.